Karya KHR. As'ad Samsul Arifin bin Ruham Ibrahim biasa dibaca sebagai Dzikir pujian setelah Adzan Isya', untuk memperkokoh tauhid di dalam hati dan jiwa seti
KiaiFawaid wafat dalam usia yang sangat muda, yaitu 43 tahun. Putra dari KH R As'ad Syamsul Arifin itu meninggal dunia di Graha Amerta RS Dr. Soetomo, Surabaya, Jum'at (9/3), pukul 12.15 WIB. Sekretaris DPC PPP Situbondo Sumardi Mufid membenarkan wafatnya Pengasuh Ponpes di Situbondo dan sangat disegani tersebut.
Ayahanda KH As'ad, KH Syamsul Arifin, sudah membabat alas ke Situbondo dan mendirikan pondok pesantren di Dusun Sukorejo tahun 1908. Pasca KH Syamsul Arifin mangkat tahun 1951, KH As'ad lah yang
Sedangkan usaha K.H.Raden Asâad Syamsul Arifin dalam NU diwujudkan dengan menjadi mediator berdirinya NU, membesarkan NU sehingga menjadi partai politik yang besar dan menempatkan NU pada posisi 3 pada pemilu 1955 serta mengembalikan NU ke Khittah 1926 dengan mengadakan muktamar NU ke-27 di Situbondo.
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat memberikan sambutan pada Haul ke-8 KH Abu Bakar Cholil di Ponpes Metal Muslim Alhidayah, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (2/1/2023). (Ist) Liputan6.com, Jakarta Mengutip pernyataan Kiai Haji Asâad Syamsul Arifin, tokoh dan ulama yang berperan penting dalam lahirnya Nahdlatul Ulama, Ketua DPD RI, AA
Salah satu riwayat awal pendirian Nahdlatul Ulama tidak terlepas dari peran KH Raden Asâad Syamsul Arifin. Ia menjadi wasilah (perantara) ketika Hadratussyek
. Asâad Syamsul Arifin merupakan putra ulama besar Madura, KH Syamsul Arifin, yang juga pendiri NU. Ia dianggap telah berjasa besar bagi bangsa Indonesia. JAKARTA, Indonesia â Menyambut peringatan Hari Pahlawan, Presiden Joko âJokowiâ Widodo di Istana Negara menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada ulama Nahdlatul Ulama NU, almarhum KH Raden Asâad Syamsul Arifin, pada Rabu, 9 November. Asâad Syamsul Arifin merupakan putra ulama besar Madura, KH Syamsul Arifin, yang juga pendiri NU. Ia dianggap telah berjasa besar bagi bangsa Indonesia. Asâad Syamsul Arifin pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan bangsa. âTidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan,â kata Kepala Biro Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, Laksma TNI Suyono Thamrin, melalui siaran pers. Asâad Syamsul Arifin lahir pada 1897 di Mekkah, Arab Saudi, dan meninggal dunia pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, Jawa Timur, pada usia 93 tahun. Ulama yang terakhir menjadi Dewan Penasihat Musytasar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiâiyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Ia merupakan penyampai pesan Isyarah berupa tongkat disertai ayat Al-Qurâan dari KH Kholil Bangkalan untuk KH Hasyim Asyâari, pendiri Nahdlatul Ulama. Pemberian gelar pahlawan nasional ini berdasarkan Keputusan Presiden Keppres Nomor 90/TK/Tahun 2016 tentang penganugerahan gelar Pahlawan Nasional. Selain itu, Presiden Jokowi juga menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama yang sudah ditetapkan dengan keputusan Presiden RI Nomor 91/TK/ Tahun 2016 tanggal 3 November 2016 kepada Mayjen TNI Purn Andi Mattalatta tokoh pejuang asal Sulawesi Selatan, dan letkol Inf Anumerta M Sroedji tokoh asal provinsi Jawa Timur. â
- As'ad Syamsul Arifin adalah seorang ulama besar sekaligus tokoh dari organisasi Islam Nahdlatul Ulama NU. Jabatan terakhir yang ia emban dalam NU adalah sebagai Dewan Penasihat Pengurus Besar NU. Pada 1920, As'ad Syamsul Arifin mendongkrak semangat perjuangan dan dakwah Islam melalui Barisan Pelopor adalah wadah dalam membina mantan bandit di Pesantren Sukorejo untuk dakwah dan perjuangan. Oleh karena itu, Arifin juga disebut sebagai pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Sukorejo. Baca juga Tokoh-Tokoh Revolusi RusiaAwal Hidup As'ad Syamsul Arifin lahir di Mekkah, Saudi Arabia, tahun 1897. Ia merupakan putra dari KH Syamsul Arifin dan Siti Maimunah. Ketika berusia enam tahun, Arifin dibawa oleh orang tuanya kembali ke Pamekasan, Jawa Timur. Di sana mereka tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura. Setelah lima tahun menetap, sang ayah mengajak As'ad Syamsul Arifin pindah ke Asembagus, Situbondo. Kemudian As'ad Syamsul Arifin pindah ke Pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam.
putra putri kh as ad syamsul arifin